Jakarta, CNN Indonesia —

Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sulawesi Selatan (Sulsel) telah menangani laporan anggota perwira polisi, Ipda AH terkait kasus dugaan perselingkuhan istrinya dengan seorang dokter yang tengah viral di Makassar, Sulsel.

“Tetap anggota akan kita periksa sebagai saksi, karena itu istrinya sendiri, karena dia melaporkan. Pokoknya kita menunggu hasil pemeriksaan daripada propam,” kata Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol Komang Suartana, Rabu (18/10).

Komang mengatakan bahwa Ipda AH melaporkan sendiri kasus dugaan perselingkuhan istrinya dengan dokter berinisial AW ke Ditreskrimum Polda Sulsel.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

“Iya benar, suaminya sendiri melapor. Nanti proses lidik apa itu terbukti, nanti tinggal masuk ke penyidikan oleh Ditreskrimum. Apakah masuk ranah pidana atau tidak nanti, kita lihat dari hasil pemeriksaan,” ungkapnya.

Selain itu, kata Komang, dokter yang diduga berselingkuh dengan istri polisi tersebut dalam waktu dekat juga akan dimintai keterangan oleh penyidik.

“Iya, (dokter laki-laki) akan diperiksa. Nanti akan dijadwalkan oleh pak Dirkrimum dalam pemeriksaan ini,” pungkasnya.

Sebelumnya, Ipda AH mengaku istrinya yang juga merupakan seorang dokter lulusan luar negeri tersebut mengalami intimidasi yang dilakukan oleh AW.

Namun, Komang mengatakan bahwa dugaan intimidasi tersebut hingga saat ini penyidik belum temukan dugaan tersebut.

“Kita belum dapat itu. Nanti kita lihat hasil pemeriksaan. Tetap, semua miliki aturan-aturan. Apalagi sudah bersuami istri melakukan perselingkuhan pasti akan ada aturannya untuk kita tingkatkan secara hukum,” pungkasnya.

Dugaan intimidasi

Ipda AH melaporkan kejadian itu dengan dugaan perzinaan antara istrinya, KD dengan dokter inisial AW. Kasus ini pun tengah dalam penyelidikan Polda Sulsel.

“Iya memang dugaan awal seperti itu (perselingkuhan). Berita itu benar,” kata Ipda AH saat dikonfirmasi, Selasa (17/10).

Namun, dalam fakta penyelidikan, kata AH bahwa istrinya, KD yang juga seorang dokter diduga telah menjadi korban setelah dipaksa oleh AW yang merupakan dokter residen untuk melakukan hal-hal di luar dari profesi kedokteran.

“Saya berpandangan bahwa secara objektif perempuan itu korban, dan sisi lain saya sebagai suami, karena seolah-olah beritanya kemarin, terlalu menyudutkan. Fakta-faktanya lagi digali Polda Sulsel, ternyata ada unsur-unsur pemaksaan atau penekanan dari residennya,” ungkapnya.

Pemaksaan untuk melakukan hal tak senonoh yang dilakukan oleh AW kepada dokter koas pernah terjadi sekitar delapan bulan lalu di lingkup kampus Universitas Hasanuddin.

“(Kasus yang sama) terjadi sekitar 8 bulan lalu dengan anak koas. Dalam satu waktu koas ini butuh bimbingan dari residen. Nah, hal-hal seperti itu mereka dimanfaatkan, misalnya mereka mau bertanya sesuatu ke residen tapi ada syaratnya diberikan, seperti diajak jalan,” jelasnya.

Ia menerangkan bahwa kondisi istrinya tengah syok atas kejadian tersebut.

“Dari keterangan saya ada arahnya ke situ. Kemungkinan istri saya akan buat laporan. AW lagi kita buru. Diperkosa ada unsur ancaman, penekanan dan iming-iming. Kalau iming-iming memang betul dari keterangan istri saya. Diiming-imingi nilai yang bagus,” tuturnya.

Korban AW diduga lebih dari satu orang. Ipda AH menduga pihak fakultas sengaja menyembunyikan kasus tersebut dan tidak ingin memberikan sanksi kepada AW.

“Istri saya ini korban, dengan seiringnya waktu akhirnya terbuka, karena yang satu ini di anestesi itu juga (korban) sistemnya sama, bahkan mereka ini berteman yang kejadian 8 bulan lalu dengan si AW, itu mereka saling kenal,” pungkasnya.

Sementara itu, Humas Universitas Hasanuddin, Kepala Bagian Humas Unhas, Ahmad Bahar mengatakan bahwa pihaknya menyerahkan sepenuhnya pihak kepolisian.

“Dari kampus menyerahkan ke polisi untuk saat ini,” kata Ahmad saat dikonfirmasi.

Kemudian Dekan Fakultas Kedokteran Unhas, Haerani Rasyid mengaku belum menerima laporan dari para korban terkait dugaan pemerkosaan, pemaksaan maupun iming-iming nilai yang dilakukan dokter residen kepada dokter koas.

“Kami di fakultas tidak pernah menerima laporan apapun seperti yang dijelaskan itu,” kata Haerani.

(mir/DAL)

[Gambas:Video CNN]

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *