Jakarta –

Braga yang sekarang tak sama dengan Braga yang dulu. Jalan itu pernah menjadi kawasan eksklusif bagi orang Belanda.

Jalan Braga saat ini menjadi destinasi yang wajib dikunjungi kala berwisata ke Kota Bandung. Jalan ini punya daya tarik tersendiri, baik secara arsitektur yang bergaya Eropa hingga banyaknya toko dan kafe menarik untuk nongkrong.

Namun, sebelum menjadi jalan yang bebas dinikmati siapa pun tanpa memandang kelas itu, Braga pernah menjadi destinasi yang dikuasai kalangan elit Belanda yang disebut preangerplanters (tuan kebun).


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Braga sangat populer bagi mereka pada medio 1800-an hingga sebelum kemerdekaan Indonesia. Mereka menjadikan Braga tempat bersosialisasi dan melepas penat setelah sibuk bekerja di perkebunan yang berada di wilayah Bandung Utara.

Pada masa itu, Jalan Braga juga memiliki fasilitas yang lengkap. Di sana berdiri toko-toko yang menjual berbagai barang mulai dari fesyen, kuliner, perhiasan, mobil, salon, hingga kelontong.

Jalan Braga Bandung tempo dulu. Foto: Istimewa/Koleksi digital University Leiden

Anggota Komunitas Aleut (komunitas walking tour di Bandung) Ariyono Wahyu Widjajadi atau akrab disapa Alex menjelaskan, di Jalan Braga semua kebutuhan tersedia. Maka tak heran, jalan ini sangat populer bagi orang Belanda saat itu.

“Pada masa itu Jalan Braga disebut sebagai jalan perniagaan paling Eropa di Hindia Belanda,” kata Alex.

Sayangnya, tempat ini menjadi terkesan eksklusif bagi orang Belanda. Pribumi memang tidak dilarang untuk sekadar lewat. Namun, ada rasa tidak enak bila mereka memasuki kawasan yang didominasi orang Eropa ini.

“Orang pribumi nunduk-nunduk kalau jalan di situ. Itu jalannya orang Eropa. Kalau pribumi tempatnya bukan di situ tapi di alun-alun. Orang bisa lewat tapi merasa terintimidasi karena levelnya tidak masuk,” ujarnya.

Museum Konferensi Asia Afrika. Foto: Istimewa

Selain terdapat banyak toko dan restoran, di Jalan Braga juga terdapat perkumpulan orang Belanda yang disebut Societeit Concordia.

Mengutip buku berjudul Braga Jantung Paris Van Java karya Ridwan Hutagalung dan Taufanny Nugraha, Societeit Concordia resmi berdiri pada 1879. Kebanyakan anggotanya adalah para preangerplanters dan pejabat pemerintahan kolonial di Bandung.

Perkumpulan ini sempat berpindah-pindah. Terakhir, mereka menempati Gedung Societeit Concordia yang kini dikenal sebagai Museum Asia Afrika. Bila traveler jalan-jalan ke Braga dan menemukan gedung melengkung mengikuti jalan, itulah tempatnya.

Berbagai acara kesenian sampai pesta dansa biasa digelar di gedung ini. Lagi-lagi, kaum pribumi cuma bisa gigit jari karena mereka tak bisa mengikuti gaya hidup orang Eropa itu.

Golongan pribumi bahkan tidak berani mendekat ke Societeit Concordia. Mereka biasanya hanya menonton suasana dari seberang jalan alias memantau dari jauh.

Namun, apakah benar-benar tak ada pribumi di Societeit Condordia? Jawabannya ada. Mereka yang bekerja sebagai pelayan tentunya akan berada di lingkungan elit.

Selain itu, W.R Soepratman (pencipta lagu Indonesia Raya) juga tercatat pernah tampil di Societeit Concordia. Pada taun 1924, beliau tergabung sebagai pemain biola dalam kelompok musik yang rutin manggung di sana.

Kemudian, Ismail Marzoeki juga pernah diundang pemimpin orkes di Societeit Concordia, Julius Foorman, untuk menjadi pemain paruh waktu. Beliau secara khusus diminta menyanyikan lagu karyanya Als de Orchideen Bloein. Hanya, saat itu Ismail menolak tawaran tersebut.

Simak Video “Inspira Roasters, Menginspirasi Lewat Kopi”
[Gambas:Video 20detik]
(pin/fem)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *