Cianjur –

Terowongan Lampegan di Cianjur punya sejarah panjang yang selubungi kisah mistis. Salah satunya, sosok raksasa yang kerap meminta tumbal. Seperti apa kisahnya?

Terowongan kereta ini memang kerap dikaitkan dengan kisah mistis. Salah satunya tentang Nyi Sadea, penari jaipong yang hilang secara misterius usai peresmian terowongan tersebut pada 1882 silam.

Namun selain itu, ada juga sosok gaib berukuran raksasa yang dipercaya oleh warga bersemayam di atas bukit yang dilalui terowongan tersebut.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

Bahkan, tidak sedikit yang percaya peristiwa longsor pada 2001 lalu di mulut terowongan Lampegan, disebabkan oleh sosok gaib raksasa tersebut yang marah, lantaran tak pernah diberi seserahan atau sesajen.

“Tidak sedikit yang percaya dengan sosok raksasa gaib tersebut. Dan mengaitkan kejadian longsor dengan sosok itu. Bilangnya sosoknya marah, minta sajen supaya tidak longsor lagi,” ungkap Abah Pardi alias Abah Uje, tokoh masyarakat Kampung Lampegan.

Bahkan, kala itu, warga bersama pihak kereta api, sempat menyembelih kambing hitam untuk meredakan amarah dari sosok gaib tersebut.

“Ya karena ada yang percaya, jadinya dilakukan penyembelihan. Katanya sosok tersebut mintanya kambing hitam, jadi disembelih kambing hitam untuk seserahan,” kata dia.

“Bahkan hal itu (sembelih kambing hitam) tidak dilakukan sekali, tetapi setiap ada pembangunan di kawasan Lampegan,” tambahnya.

Dia menyebut perbuatan tersebut sebenarnya bukan permintaan dari sosok gaib di kawasan gunung yang dilintasi terowongan Lampegan. Namun sebatas perumpamaan yang malah disalahartikan.

“Kalau istilah manusianya mah hade goreng ku basa (baik buruk ada ucapan). Jadi memang minta seserahan, tapi bukan dalam artian dengan penyembelihan hewan, tapi sebatas minta didoakan. Karena mereka buat apa darah kambing atau kepala hewan yang dikubur, tidak akan dimakan,” kata dia.

Tapi di balik itu, tradisi atau kepercayaan untuk memberikan seserahan itu ada pihak yang diuntungkan, yakni mulai dari penjual kambing atau pelaksana ritual.

“Yang punya kambing hitam jadi dibeli dan dapat uang, kemudian yang ritual juga pasti diberi uang atas jasanya,” ungkapnya.

“Tapi kalau dari saya untuk apa melakukan hal itu, lebih baik doakan saja. Kalaupun terjadi bencana kan itu sudah waktunya, apalagi kan di atas terowongan itu ada sumber air sehingga rawan longsor tanahnya,” pungkasnya.

—–

Artikel ini telah naik di detikJabar.

Simak Video “Geger Teror Pocong dan Mitos Pesugihan di Rembang”
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *