Jambi –

Ada pendaki yang membawa anak balitanya mendaki Gunung Kerinci. Kejadian viral itu disebut lebih tinggi resikonya, dibanding pengalaman yang tertanam di anak.

Ketua Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia (APGI) wilayah Jawa Tengah, Dasirun, berpendapat bahwa mendaki gunung adalah wisata minat khusus, sehingga perlu kondisi fisik tertentu untuk bisa mendaki dengan aman.

“Balita saya rasa secara fisik belum mampu beradaptasi dengan suhu, dengan bedanya ketinggian,” ucapnya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain itu menurut Dasirun, pengalaman mendaki gunung ini belum mampu tertanam dalam ingatan pada anak usia belia, sehingga tidak perlu memaksakan.

“Terus kalau secara psikologis pengalaman juga buat apa anak-anak segitu kan. Menurut saya itu terlalu beresiko dan tidak boleh ditiru,” katanya.

Dia menjelaskan, bahwa Gunung Kerinci sendiri merupakan salah satu gunung yang tinggi dan memiliki jalan yang ekstrim. Gunung ini bahkan bisa menjadi kesulitan tersendiri bagi orang dewasa.

“Lalu medannya, seingat saya itu ada tanjakan-tanjakan yang sangat tinggi. Maksudnya orang dewasa saja ada lokasi yang dengkul ketemu muka. Nah kalau anak-anak itu gimana itu. Mungkin kan digendong, tapi sekali lagi kan ada resiko misalnya orang tuanya terpeleset ketika anaknya digendong,” jelasnya.

Dasirun kerap mendampingi pendakian di Gunung Semeru dan beberapa gunung di Jawa Tengah. Ia menyebut, biasanya di setiap gunung memiliki usia batas bawah dan batas atas umur.

“Terus Kerinci kan Taman Nasional, itu biasanya ada standar minimal sama standar maksimal. Yang saya tahu, Semeru itu standar minimal 10 tahun, standar maksimal 60 tahun,” jelasnya.

“Jadi kalau yang 10 itu dianggap nalarnya sudah masuk, sudah punya nalar, kemudian secara fisik juga sanggup. Kalau 60 kan orang kalau sudah 50 ke atas ada kemungkinan-kemungkinan penyakit disamping bisa aja serangan jantung dan sebagainya,” imbuhnya.

Selain itu ia menjelaskan saat ini di Taman Nasional diperlukan persyaratan lebih ketat, misalnya surat keterangan sehat dari dokter, sehingga ada antisipasi dan jika seseorang belum layak biasanya ditolak dalam pendakian.

Ia menyebut, sebaiknya pendaki yang ingin membawa anak bisa mencari alternatif gunung lain yang lebih aman. Ia menyarankan yang tingginya di bawah 3.000 mdpl. Selain itu ia menyebut jalur evakuasi di setiap gunung juga perlu menjadi fokus utama, khususnya bagi yang membawa anak.

“Ada banyaklah, kita kan sampai ratusan gunung. Saya sarankan di bawah 3000 mdpl, karena cuaca dan kondisi lapangan. (Yang perlu dipertimbangkan) Ada jalur pendakian sama kesulitan evakuasi. Itu beruntung ya, jika terjadi apa-apa, di Kerinci itu evakuasinya kan sangat jauh,” ucapnya.

“Jadi saya sangat menyesalkan ini, jadi itu nggak layak lah. Itu hanya mengikuti ego orang tua saja saya pikir,” katanya.

Ia juga menjelaskan, bahwa ada baiknya membawa pemandu lokal khususnya jika membawa anak. Walaupun hal itu tidak diwajibkan dan hanya kebijakan lokal di beberapa pendakian, tetapi pemandu lokal bisa membantu khususnya jika terjadi hal yang tidak diinginkan.

“Porter dan pemandu itu kebijakan lokal, non taman nasional. Tapi Taman Nasional juga sudah mulai menerapkan tapi belum semua, kalau diwajibkan kan nanti kesannya memaksa. Cuman kalau bawa anak baiknya membawa pemandu atau guide lokal. Pertimbangannya kalau terjadi sesuatu kalau orang lokal tahu lah jalur tercepat, secara fisik juga mereka biasanya punya kemampuan fisik untuk membawa orang dengan cepat,” pungkasnya.

Simak Video “Geger Balita Diajak Naik Gunung Kerinci, Ortunya Sempat Bohongi Petugas”
[Gambas:Video 20detik]
(wkn/wsw)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *