Jakarta –

Berlari bersama banteng memang begitu menantang, namun risiko tewas sangatlah besar. Di sisi lain, perhelatan dari Spanyol ini tak pernah surut pengunjung.

Kisah ini berdasar sebuah artikel yang tayang di CNN, dikutip Rabu (29/11/2023). Si penulis menuliskan pengalamannya sebagai orang pertama.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut kisahnya:

Pada tanggal 11 Juli 2014, saya sedang berlari dengan seekor banteng di Pamplona, Spanyol.

Banteng hitam seberat 544 kg dengan tanduk besar itu berlari hanya beberapa meter di belakang saya. Buih liurnya menggantung dari mulut dan nafasnya terasa hangat di punggung saya.

Ketika seorang turis mendorong saya ke tanah, Brevito, seekor banteng jantan dari peternakan Victoriano del Rio, menukik dalam gerakan lambat, mengunci matanya pada saya, mengarahkan tanduk yang melengkung dan menusuk paha bagian dalam.

Dia mengangkat saya ke udara dan kami berdua jatuh ke trotoar berbatu. Saat saya terlepas dari tanduknya, dia menanduk saya lagi di bawah lutut sebelum seorang petugas medis menarik saya ke bawah barikade kayu ke tempat yang aman.

Saya melihat kaki saya berlubang seukuran bola raket di paha bagian dalam. Terlihat urat mengucurkan darah mengalir keluar dari kaki saya dari lubang kedua dan darah memenuhi sepatu, tumpah ke batu-batu bulat dan menetes ke selokan.

Seseorang bergegas menolong, berlutut dan memegang tangan saya. Setelah memeriksa dengan petugas medis, saat masih di lokasi, ia memberi tahu bahwa arteri saya masih utuh dan saya akan hidup.

Festival San Fermin digelar di Pamplona, Spanyol (Foto: AP Photo/Alvaro Barrientos)

Selama 18 tahun terakhir, saya telah tumbuh sedekat mungkin dengan budaya ini sebagai orang luar. Semuanya berawal dari tulisan orang Amerika lainnya yang sangat akrab dengan budaya ini, penulis pemenang Hadiah Nobel Ernest Hemingway.

Pada saat saya selesai membaca novel itu, saya memutuskan untuk pergi ke Spanyol dan berlari dengan banteng dan saya akan menjadi seorang penulis.

Saya pertama kali pergi ke Spanyol pada tahun 2005 dan memiliki pengalaman yang sangat intens berlari dengan banteng. Saya menjadi ketagihan.

Sejak saat itu, saya belajar tentang tradisi ini dengan menonton banyak sekali rekaman video tentang lari dan mencari para ahli seperti Graeme Galloway, Joe Distler dan Juan Pedro Lecuona.

Saya terobsesi untuk menjadi lebih baik sebagai pelari. Jadi saya mulai berlari bersama Lecuona, David Rodríguez, Aitor Arístegui, dan yang lainnya yang memimpin para pelari di jalanan.

Lari dianggap berhasil jika dilakukan langsung di depan banteng, yang disebut berlari di atas tanduk. Itu berarti hewan tersebut menerima Anda sebagai pemimpinnya dan akan mengikuti Anda.

Momen ini bersifat transendental. Hal ini membuat Anda merasa seperti menyatu dengan dewa Taurus. Ini adalah pengalaman religius.

Festival San Fermin digelar di Pamplona, Spanyol (Foto: AP Photo/Alvaro Barrientos)

Seseorang yang jadi teman saat menolong saya di peristiwa 2014, mengarahkan ke jalan yang membuat saya berhadapan dengan maut di ujung tanduk banteng.

Karena citra yang indah, berbahaya, dan terkadang mengerikan dari lari banteng di Fiesta de San Fermín, lari banteng ini menarik perhatian media internasional setiap musim panas.

Perayaan ini meningkatkan pariwisata di Pamplona, sebuah kota berpenduduk sekitar 200.000 jiwa. Tapi di saat lari banteng berlangsung, populasi membengkak hingga lebih dari satu juta jiwa.

Lomba lari ini diikuti oleh sekitar 2.000 peserta pada hari kerja dan hampir 3.500 peserta pada akhir pekan, menurut situs web resmi acara ini.

Pada tahun 2014, lebih dari separuh pelari adalah orang asing. Dan dua dari setiap tiga pelari baru pertama kali ikut serta, menurut sebuah survei. (Acara ini telah menggunakan teknologi untuk memfasilitasi penghitungan pelari dan mengumpulkan data sejak tahun 2011).

Tidak mengherankan jika tradisi ini telah mendapat kritik sejak lama. Kelompok pembela hak-hak binatang mengkritik acara ini dengan mengatakan bahwa banteng dan manusia disakiti di dalamnya.

Namun, menurut pengalaman saya, banteng sangat jarang terluka dalam pelarian. Jika mereka terluka, biasanya karena terjatuh dan ditanduk oleh banteng lain.

Demikian pula, kebanyakan orang terluka oleh orang lain karena ribuan orang berlari di jalanan.

Namun ketika seekor banteng menyeruduk seorang pelari, yang menurut pemerintah Pamplona terjadi pada sekitar satu dari setiap 2.500 peserta dalam perayaan San Fermin, luka-lukanya bisa mengancam jiwa.

Kematian bisa saja terjadi. Bulan lalu, seekor banteng menanduk dan menewaskan José Antonio Subies yang berusia 61 tahun di Valencia.

Sejak tahun 1910, saat pencatatan dimulai di Pamplona, 16 orang telah tewas di Las Fiestas de San Fermín. Dan tahun lalu, 10 orang kehilangan nyawa mereka dalam ribuan acara lari banteng di seluruh Spanyol di wilayah Valencia, Madrid, Castilla y León dan Navarra.

Kematiannya memang tragis, namun itu adalah bagian dari tontonan kuno yang mengerikan sekaligus puitis.

Itulah mengapa orang-orang seperti saya tertarik untuk pergi ke jalanan bersama hewan-hewan ini dari tahun ke tahun. Kami ingin terhubung dengan hubungan primordial antara manusia dan banteng, hubungan yang agung namun terkadang mematikan.

Simak Video “Penyanyi Shakira Hadapi Sidang Perdana Penggelapan Pajak Rp 241 M”
[Gambas:Video 20detik]
(msl/fem)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *