Bangli –

Sebelum masuk jajaran desa wisata terbaik dunia 2023, Desa Penglipuran dinilai dari berbagai aspek, salah satunya keberlanjutan ekonomi. Begini konsep yang dimiliki Desa Penglipuran.

Desa Penglipuran secara membanggakan masuk jajaran desa wisata terbaik di dunia 2023. Desa yang berlokasi di Kabupaten Bangli, Bali itu mendapatkan gelar terbarunya pada Kamis (19/10/2023) di Samarkand, Uzbekistan. Penghargaan ini diberikan oleh The World Tourism Organization (UNWTO) kepada 54 desa wisata di seluruh dunia

Sebelum meraih predikat bergengsi ini, ternyata Desa Penglipuran sudah melewati tahap evaluasi berdasarkan sembilan bidang utama, salah satunya adalah aspek keberlanjutan ekonomi. Wayan Sumiarsa, ketua pengelola Desa Penglipuran, membocorkan konsep keberlanjutan ekonomi di Desa Penglipuran.

“Keberlanjutan ekonomi ini yang baru kita pikirkan itu adalah bagaimana caranya membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya untuk warga Desa Penglipuran. Ke depannya juga dengan keberadaan pariwisata ini bisa memberikan dampak ekonomi kepada desa tetangga,” kata Wayan Sumiarsa.

Keberadaan pariwisata di Desa Penglipuran tak hanya bermanfaat bagi warga lokal, namun sudah memberikan manfaat untuk warga desa sekitar. Wayan Sumiarsa menyebut mulai mempekerjakan warga desa sekitar dalam beberapa atraksi wisata di Desa Penglipuran.

“Saat ini sudah diterapkan. Jadi kita sekarang karena kekurangan SDM, akhirnya kayak di hutan bambu itu sudah kita mampu mempekerjakan beberapa orang dari luar Penglipuran,” kata Wayan Sumiarsa.

Wayan Sumiarsa menyebut belum ada program khusus untuk mendukung keberlanjutan ekonomi di Desa Penglipuran. Namun, pengelola desa Penglipuran memiliki sebuah atraksi wisata bernama Pasar Pelipur Lara.

Pasar Pelipur Lara ini dibuka dengan tujuan memfasilitasi masyarakat desa yang tidak memiliki lahan untuk berjualan di destinasi utama Desa Penglipuran. Dengan hadirnya Pasar Pelipur Lara bisa memperkuat perekonomian warga lokal.

Setelah menyandang gelar desa wisata terbaik di dunia 2023, pihak pengelola Desa Penglipuran mulai merencanakan pengembangan dalam hal paket wisata guna menunjang ekonomi warga lokal.

“Ke depannya juga, kita ingin membuat sesuatu paket-paket wisata yang belum maksimal kita garap. Misalnya ada homestay dan guest house, itu akan kita garap lebih maksimal,” ujar Wayan Sumiarsa.

Peningkatan promosi untuk homestay dan guest house menjadi PR utama bagi Wayan Sumiarsa dan tim pengelola Desa Penglipuran. Promosi ini tak lain bertujuan untuk meningkatkan length of stay wisatawan di Desa Penglipuran.

“Kita ingin fokus pada length of stay. Jadi dengan lamanya di Penglipuran dia spent of money-nya akan semakin banyak di Penglipuran. Sekarang kan kalau dipersentasekan sangat kecil sekali length of stay-nya. Kalau kita mampu menarik mereka untuk tinggal lebih lama di sini, itu kan dampak ekonominya tinggi sekali,” kata Wayan Sumiarsa.

Dalam mewujudkan keberlanjutan ekonomi, pengelola Desa Penglipuran ternyata tak bekerja sendiri. Wayan Sumiarsa mengaku pihaknya dibantu oleh PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) dalam membina UMKM lokal Desa Penglipuran.

DesaPenglipuran juga memiliki guest house. Di sini terdapat tiga kamar. Konsep yang ditawarkan adalah menginap gaya jaman dulu. Tidak ada tv dan internet.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk traveler yang ingin menginap, pihak pengelola menawarkan tiga pilihan paket:
· Paket menginap 1 dikenakan biaya sebesar Rp 375 ribu yang sudah include dengan tiket masuk dan breakfast.
· Paket menginap 2 seharga Rp 600 ribu, sudah termasuk tiket masuk dan breakfast di tengah jalan desa.
· Paket menginap 3 seharga Rp 1,6 juta, sudah termasuk tiket masuk, breakfast, dan dinner di tengah jalan desa.

Beberapa fasilitas yang akan traveler dapatkan di kamar yakni, tempat tidur, kamar mandi, lemari, dan lain-lain. Uniknya, semua bangunan menggunakan konsep tradisional tanpa ada fasilitas AC atau kipas angin.

Traveler yang memilih paket menginap 2 dan 3 akan mendapatkan breakfast dan dinner di tengah jalan Desa Penglipuran. Khusus untuk dinner, traveler akan makan di tengah jalan desa dengan konsep megibung ala Bali. Menu yang dihidangkan juga menu tradisional khas Bali, megibung. Menunya lokal banget, sate lilit, mujair nyat-nyat, sayur urab, jukut undis, nasi sela, dan bubur sumsum.

Simak Video “Potret Desa Penglipuran Bali yang Dinobatkan Sebagai Desa Wisata Terbaik Dunia”
[Gambas:Video 20detik]
(fem/fem)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *