Surabaya, CNN Indonesia —

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Blok Savana Lembah Watangan atau Bukit Teletubbies Gunung Bromo, Jawa Timur, belum padam hingga Jumat (8/9) sore.

Kasi Kedaruratan BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno mengatakan luas lahan yang terdampak saat ini mencapai 274 hektare.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO RESUME CONTENT

“Diestimasikan sekitar kurang lebih 274,71 hektare,” kata Satriyo melalui keterangan tertulis.

Satriyo menuturkan hingga kini petugas masih melakukan pemadaman. Mereka terbagi menjadi dua tim.

“Tim atas memadamkan api di puncak Gunung Kursi. Tim bawah memadamkan api di lereng Gunung Kursi agar tidak meluas ke padang rumput/savana,” ucapnya.

Setelah dibagi menjadi dua tim, Satriyo menuturkan, titik api di sisi bagian timur sudah berhasil dipadamkan. Tim kemudian fokus pada pemadaman di sisi barat.

“Tim gabungan berjumlah 50 orang melakukan pemadaman api dengan menggunakan gepyok dan tambahan satu unit mobil tangki,” ujarnya.

Humas Balai Besar Taman Nasional Tengger Bromo Semeru (TNBTS) Hendra mengatakan saat ini hanya ada tiga titik api yang tersisa.

Meski demikian seluruh objek wisata di area Gunung Bromo masih ditutup sementara hingga waktu yang tak ditentukan.

“Sekarang masih ada tiga titik [api] kami lakukan pemadaman kebakaran. Masih ditutup. Tapi kondisinya sekarang sudah tinggal asap tipis,” kata Hendra.

Bukit Teletubbies di Gunung Bromo mengalami kebakaran hutan dan lahan. Diduga api berasal dari ulah pengunjung yang menyalakan flare atau suar (nyala api).

Informasi yang dihimpun, hal itu bermula saat sekelompok pengunjung melakukan sesi foto prewedding pada Rabu (6/9). Mereka diduga menyalakan flare yang memicu terjadinya kebakaran.

“Sesuai laporan kejadian dari petugas lapangan, perihal penyebab terjadinya kebakaran betul mas,” kata Hendra, saat dikonfirmasi CNNIndonesia.com, Kamis (7/9).

Akibat kejadian itu, wisata Gunung Bromo dan sekitarnya ditutup sementara. Petugas saat ini sedang melakukan proses pemadaman.

Polres Probolinggo pun telah menetapkan satu orang tersangka dari peristiwa itu. Ia adalah AW (41) seorang manajer wedding organizer asal Lumajang.

Penetapan tersangka ini dilakukan setelah aparat Polres Probolinggo menemukan dua alat bukti. Selain itu tersangka juga ternyata tidak memiliki Surat Ijin Masuk Kawasan Konservasi (Simaksi).

AW pun disebut sebagai orang yang bertanggung jawab atas ulah sekelompok orang yang menyalakan flare saat sesi foto prewedding calon pengantin.

Karena perbuatannya, AW dijerat Pasal 50 ayat 3 huruf D Jo pasal 78 ayat 4 UU nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan sebagaimana diubah dalam pasal 50 ayat 2 huruf b Jo Pasal 78 ayat 5 UU nomor 6 tahun 2023 tentang penetapan PP pengganti UU RI nomor 2 tahun 2022 tentang Cipta Kerja menjadi UU dan atau pasal 188 KUHP.

(frd/pmg)

[Gambas:Video CNN]

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *