Manggarai Barat –

Warga Pulau Rinca bernama Muhaimin (18) jadi korban gigitan komodo. Begini kesaksian Muhaimin saat kadal purba menyergapnya dari belakang.

Kejadian warga digigit komodo kembali terulang di Taman Nasional Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Korbannya bernama Muhaimin yang baru berusia 18 tahun.

Dia pun langsung dilarikan ke RSUD Komodo di Labuan Bajo. Pemuda yang biasa dipanggil Dian itu digigit komodo pada Selasa siang (24/10/2023). Dian mengalami luka serius di pergelangan dan jari tangan kanannya.


ADVERTISEMENT


SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dian mengungkapkan kronologi bagaimana dia sampai digigit binatang buas itu. Saat itu, Dian sedang duduk setelah kelelahan menarik selang.

Ia bersama rekannya mengambil selang di bak air di Waewako, kampung Waerebo, untuk dibawa ke rumahnya.

“Saya duduk Istirahat, capek, saya kaget dia langsung sergap saya punya tangan, saya kaget,” ujar Dian saat ditemui di UGD RSUD Komodo, Rabu (25/10/2023).

Komodo Menyergap dari Belakang

Dian mengatakan, saat itu dia duduk di sebuah batu berukuran relatif besar. Komodo muncul dari belakang batu dan langsung menggigit bagian pergelangan hingga jari tangan kanan Dian.

Komodo berukuran kecil itu langsung berlari usai menggigit tangan Dian. “Muncul dari belakang batu, batu besar di belakang. Saya tidak lihat datang, terasa sudah digigit,” ujar Dian.

Ia mengatakan komodo di sekitar Kampung Waerebo biasanya berlari ketika melihat manusia. Namun, saat itu Dian justru digigit hewan buas tersebut.

Menurutnya, komodo itu terganggu karena posisi duduk Dian menghalangi bangkai rusa yang ada di depannya.

“Mungkin pengaruh ada bangkai, dia merasa terganggu. Bangkai di depan saya, mungkin pengaruh halangin oleh saya,” terang Dian.

Darah Mengucur Terus

Ia mengaku tetap waspada terhadap aktivitas komodo saat pergi mengambil selang tersebut, namun ia tetap digigit. Dian menyebut merasakan kram di bagian tangan yang terluka seusai digigit komodo tersebut.

“Denyut-denyut, kayak kram pelan-pelan di lukanya,” ujarnya.

Darah mengucur deras dari luka gigitan komodo. Pendarahan berhenti setelah diobati menggunakan ampas kopi di rumahnya sebelum dievakuasi ke RSUD Komodo.

“Darah banyak. Habis gigit darah tidak berhenti, sampai di rumah baru berhenti pake kopi, baru bawa ke sini (RSUD Komodo). Sampai di sini berdarah sedikit karena goyang-goyang,” jelasnya.

Warga Minta Pagar Pembatas

Muhaimin alias Dian beserta warga di Kampung Waerebo, Dusun Kerora, Desa Pasir Panjang, Pulau Rinca, Taman Nasional Komodo meminta Balai Taman Nasional Komodo (BTNK) membangun pagar pembatas Kampung Waerebo dengan habitat komodo.

Selama ini 50 penduduk kampung Waerebo hidup berdampingan tanpa pagar pembatas dengan komodo. Kendati selalu waspada dengan Komodo, Muhaimin yang disapa Dian akhirnya digigit hewan buas tersebut pada Selasa siang. Dian berharap dengan dibuatkan pagar pembatas tak ada lagi warga di sana yang menjadi korban serangan komodo.

“Keinginan saya buat pagar di Waerebo supaya tidak terulang kembali yang gigit. Karena Komodo sering masuk ke kampung keinginan saya itu saja, pagar supaya aman,” ujar Dian.

Setiap Hari Komodo Masuk Kampung

Pemuda berusia 18 tahun itu mengatakan hampir setiap hari komodo masuk ke pemukiman warga kampung Waerebo. komodo kerap menyerang kambing di belakang rumah warga.

“Tidak ada pagar pembatas. Setiap hari ada komodo masuk sampai di belakang rumah makan kambing,” ujar Dian.

Hewan purba itu juga kerap mendatangi tempat jemur ikan warga kampung Waerebo. “Komodo datang karena ada bau ikan,” terangnya.

Sebelum Dian digigit komodo, belum ada warga Kampung Waerebo digigit kadal raksasa tersebut. Komodo di sana menjauhi manusia ketika diusir. “Diusir, pergi kalau lihat manusia,” tutur Dian.

Sebelumnya Kepala Dusun Kerora, Basir, juga meminta BTNK untuk dibuatkan pagar pembatas kampung Waerebo dengan habitat komodo di sana. Ia menjelaskan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui BTNK telah membuat pagar pembatas habitat Komodo dengan sejumlah kampung di dusun Kerora sepanjang 970 meter.

Pagar yang dibuat dua tahun lalu itu tidak sampai di kampung Waerebo yang memiliki 14 rumah tersebut.

“Sekitar 200 meter di Waerebo yang belum dibuat pagar,” kata Basir.

Ia menjelaskan Kampung Waerebo kerap didatangi komodo setelah kampung-kampung lainnya dibuatkan pagar pembatas. Pada bulan pertama setelah sejumlah kampung dipagari, serangan komodo di Kampung Waerebo meningkat tajam. Dalam waktu sebulan itu sebanyak 10 ekor kambing warga Waerebo diserang hewan buas tersebut.

“Fokus komodo ke Kampung Waerebo (karena tidak ada pagar pembatas). Satu bulan pertama 10 ekor kambing diserang komodo,” ungkap Basir.

Ia mengatakan komodo paling sering datang ke Kampung Waerebo memasuki Oktober seperti saat ini. “Bulan sekarang aktif komodo (datang ke kampung Waerebo),” kata Basir.

Kepala BTNK: Pagar Dibangun Bertahap

Kepala BTNK Hendrikus Rani Siga mengaku berkomitmen semua kampung di kawasan Taman Nasional Komodo yang berbatasan dengan habitat komodo dibuatkan pagar pembatas. Pembangunannya dibuat bertahap sesuai ketersediaan anggaran.

“Saya berharap semua kampung dalam kawasan dipagari agar semua masyarakat tidak lagi terancam oleh komodo,” ujar Hendrikus, Rabu (25/10/2023).

Ia mengatakan sebagian besar kampung di Pulau Rinca sudah dibuatkan pagar pembatas. Di Pulau Komodo pembangunan pagar sudah dibuatkan fondasi, tapi kontraktornya tak menuntaskan pekerjaan dan mengundurkan diri.

“Secara bertahap (bangun pagar). Saat ini yang sudah dipagar itu kampung Rinca, kerora, dan kampung komodo sampai saat ini baru sampai pada fondasi,” jelas Hendrikus.

——

Artikel ini telah naik di detikBali.

Simak Video “Cerita Totalitas Perawat Komodo di Taman Safari Indonesia, Pernah Digigit?”
[Gambas:Video 20detik]
(wsw/wsw)

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *